Ingetang Makenyem

Senyum itu awal Kebahagiaan
Senyum itu akhir Kebahagiaan
Senyum itulah Kebahagiaan

Bila kita ingin senang tersenyumlah pada lingkungan, jika ingin hidup penuh suka cita senyumlah pada diri sendiri dan ketika menginginkan hidup tenang persembahkanlah senyum tulus kehadapan Sang Pencipta. Maka salah satu cara untuk mewujudkan kebahagiaan hanya dengan selalu tersenyum tulus.

Senyumlah tulus dalam keadaan apa pun, kapan pun, dimana pun serta kepada siapa pun. Dunia pun akan tersenyum bila kita tersenyum.

Ingat senyum sejati itu tidaklah memerlukan alasan, tidak dibuat-buat serta tulus hati, maka "Senyum, ya Tersenyumlah......" ! Anda pasti akan menemukan makna senyum yang sesungguhnya.

Salam Senyum..!

































Kamis, 28 Januari 2010

inspirasi belajar

SAYA PESAING UTAMAKU
Ketika masih bersekolah, yang menjadi pesaing utama untuk mendorong kemajuan adalah teman sekelas. Sering saya iri ketika SD teman saya sudah bisa naik pesawat udara berangkat ke Jakarta untuk mewakili olympiade Matematika. Padahal kemampuan secara akademis tidak jauh berbeda dengan saya. Maka saya berusaha belajar lebih giat lagi, memang saya dendam denganya, tetapi dalam arti positif. Dengan emosi yang meledak-ledak di SMP saya mulai bisa mengalahkannya, saya selalu menduduki rengking tiga besar bahkan tidak jarang saya menjadi juara umum di sekolah. Teman saya mulai tidak kelihatan bahkan rengking dikelaspun dia tidak pernah ia dapatkan. Setelah tamat SMP sangat kasihan melihat nasib Sang Juara matematika ketika SD tidak bisa melanjutkan lagi karena dia harus berjuang untuk ekonomi keluarga. Saya sangat bersyukur bisa melanjutkan ke Sekolah Keperawatan dan setelah tamat saya langsung diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Setelah bekerja saya mulai menemukan pesaing baru, dimana teman-teman sekantor selalu mebuat saya iri hati. Mereka yang seprofesi, hidupnya jauh lebih baik dari saya.. Mereka bisa membeli mobil bagus. Beberapa dari mereka rumahnya sudah cukup mewah dengan pekarangan nan asri. Saya mulai bertanya kenapa mereka seangkatan ketika sekolah di keperawata bisa sehebat itu? Semenjak menikah saya mulai berjuang keras. Bersama istri saya selain sebagai Pegawai Negeri Sipil juga berusaha mengembangkan bisnis. Setelah sepuluh tahun baru kami bisa membuktikan. Dari hasil kerja keras itu kami sudah mempunyai beberapa perusahaan, kami bisa membeli beberapa tempat strategis di kota. Anak-anak bersekolah bisa kami antar dengan mobil pribadi. yang cukup mewah. Dan kami pun bisa tidur bersama keluarga di rumah berlantai tiga. Sedang teman yang saya kagumi dulu hidupnya tetap seperti itu. Rumah dan mobilnya juga belum diganti. Hidupnya tidak ada perkembangan yang berarti. Kami sekarang sudah bisa melebihi kehidupan teman saya se kantor tadi.

Mencari pesaing ke luar ternyata tidak cukup kuat untuk memberikan motivasi hidup di jaman global ini. Setelah menjadi orang tua dari dua putra dan seorang putri saya baru sadar bahwa pesaing utamaku adalah diri saya sendiri. Untuk mendorong kemajuanku ternyata saya harus bersaing dengan diri saya sendiri. Saya harus bersaing dengan umur yang selalu berjalan cepat. Bersaing dengan kondidsi kesehatan yang mulai menurung. Bersaing dengan semangat yang lama-lama mulai menudar. Dan yang paling penting bersaing dengan keadaan biaya yang terus bertambah seiring dengan tuntutan biaya sekolah anak-anak yang semakin membengkak. Maka dari itu dibutuhkan kecepatan, semangat dan pengorbanan yang tinggi untuk berjuang menuju puncak karer kehidupan.

Memenangkan persaingan dengan diri sendirilah yang paling berat. Saya berusaha menumbuhkan motivasi dalam diri agar terus mau melanjutkan sekolah sampai anak-anak kuliah nanti. Ketika anak-anak mulai kuliah saya harus rela memberikan kesempatan kepada mereka untuk maju. Kalau nanti anak-anak sudah bekerja dan kesehatan memungkinkan, saya akan melanjutkan kuliah lagi. Kalau saya bersaing dengan teman-teman atau orang lain pastilah setelah pensiun tidak ada pesaing lagi karena mereka umumnya memnganggap setelah pensiun perjuangan sudah berakhir. Padaha sebenarnya perjuangan baru dimulai karena setelah pensiun kita bisa kuliah sesuai hobi dan kesenangan. Kalau masih kerja orang berjuang keras karena tuntutan pekerjaan. Bahkan banyak orang sering terpaksa melanjutkan sekolah karena tututan kareer dan penghasilan. Nah kalau setelah pesiun kita bisa kuliah ini sangat bagus untuk menyalurkan kesenangan dan hobi. Semoga dengan bersaing positif kita selalu siap bersaing dengan diri sendiri! Selamat menemukan pesaing utama!

BEKERJA BELAJAR, PENSIUN KULIAH
Semenjak mulai bekerja di sebuah instansi pemerintah, saya sangatlah hobi belajar. Dua tahun semenjak diangkat jadi Pegawai Negeri Sipil saya rajin mengikuti khursus singkat seperti khursus bahasa. Inggris, Bahasa Jepang dan sebagainya. Kemudian sambil bekerja saya memutuskan untuk melanjutka ke perguruan tingi. mengambil Program S1 jurusan Kependidikan Bahasa Inggris. Tamat Sarjana pendididkan saya melanjutkan lagi Program S1 jurusan Ekonomi. Saya kemudia berhenti sementara dengan memberikan kesempatan kepada istri untuk melanjutkan pendidikan profesi tiga tahun ke akademi kebidanan. Setelah istri saya lulus mewnjadi seorang bidan, saya melanjutkan lagi sekolah profesi D3 Keperawatan.

Pada pertemuan kuliah perdana di sekolah D3 Keperawata, kami ditanya oleh Dosen.”Apa alasan Bapak/Ibu ikut kuliah lagi padahal sudah bekerja, usianya sudah pada tua-tua, bahkan sampai meninggalkan anak dan keluarga segala. Bapak/Ibu masih juga semangat untuk belajar?” Teman saya rata rata menjawab bahwa mereka kuliah lagi karena ingin menambah pengetahuan, pengalaman, skill. Disamping itu juga ingin menambah teman, meningkatkan kareer, pangkat, golongan dan sebagainya. Ketika tiba giliran saya di tanya seperti itu. Jawaban saya adalah.”Saya ke kampus untuk bersenang-senang karena belajar hobi saya.” Semua teman di kelas terdiam dan beberapa menoleh dengan tatapan seperti menyangsikan jawaban yang saya ucapkan. Kemudia saya jelaskan lagi bahwa menuntut ilmu itu kewajiban karena tututan pekerjaan. Saya tidak akan menghentikan langkah saya terus menuntut ilmu sebelum anak saya kuliah. Sekarang saat masih bekerja saya wajib belajar. Saya akan kuliah sebenarnya setelah saya pensiun nanti karena jurusan yang diambil bisa sesuai dengan hobi dan kesenangan. Sehingga kuliah yang sebenarnya adalah di saat pensiun nanti.

Kemudian saya buktikan bahwa sebelum di wisuda, hanya dengan surat keterangan lulus saya mencoba mengikuti testing Si Keperawata di sebuah Universitas terkenal. Bersyukurlah sekarang saya diterima bahkan sudah mulai kuliah di S1 Keperawata. Stiap berangkat kuliah saya selalu melakoni dengan senang hati. Hidup ini harus diisi dengan hala-hal yang menyenangkan. Dengan modal ke kampus untuk bersenang-senang beban belajar menjadi lebih ringan. Di universitas bukanlah ditentukan oleh oleh kepinteran IQ saja akan tetapi yang paling utama adalah keulatan daya juang dan kegigihan. Di universitas asal mau mengikuti dan selalu berusaha pasti berhasil, walaupun berapa kali nilai tidak bagus akan bisa bagus dengan mengikuti remidi dan belajar lebih giat lagi. Banyak orang gagal di perguruan tinggi bukan semata-mata kerena bodoh akan tetapi lebih banyak karena putus asa, malas, tidak konsentrasi atau salah pergaulan.

Selama saya masih bekerja saya akan berusaha belajar sampai tingkat pendidikan tertinggi. Target ahkir saya harap bisa mencapai jenjang pendidikan S2 atau S3. Saya memang sedang mengusahakan agar setelah tamat S1 nanti bisa kuliah di luar daerah atau luar negeri. Memang belajar selama masih bekerja adalah merupakan kewajiban pekerjaan untuk menuntut ilmu pengetahuan. Namun belajar yang sebenarnya adalah bila tidak ada tekanan baik dari pekerjaan maupun kepentingan pihak lain. Maka kuliah setelah pensiun adalah belajar yang sebenarnya karena akan memilih jurusan sesuai hobi dan kesenangan. Di saat inilah ke kampus unutuk bersenang-senang yang sebenarnya terwujud. Selamat ke kampus untuk bersenang-senang!

KALAH PRESTASI MENANG PRESTISE
Pada acara pengenalan program study di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehat saya bertemu dengan teman seangkatan waktu Sekolah Perawat  dulu. Setelah hampir delapan belas tahun tidak betemu, dengan gaya penuh percaya diri saya bertanya, ”Apakah kamu juga ikut kuliah D3 Keperawatan seperti saya?” Dengan senyum nyengir seperti meledek dia berkata,” Memang dulu kamu  lebih pintar, selalu berprestasi  rengking tiga besar di kelas, tetapi sekarang kan kalah prestise dengan saya. Kenyataannya sekarang saya kan lebih dulu menjadi sarjana. Saya sekarang  Mahasiswa SI Keperawatan di sini.” Mendengar jawaban teman saya seperti itu saya jadi sangat malu. Setelah kuliah D3 Keperawatan saya lebih malu lagi karena tidak bisa meraih rengking satu di kampus. walaupun pernah menduduki rengking tiga di kelas. Karena saya ingat dengan teman saya yang dulu  walaupun dikelas selalu her (nilainya jelek), tetapi sekarang duluan S1 Keperawatan, maka mulai saya bertekad walaupun kalah dalam prestasi saya akan berusaha agar bisa menang dalam prestise. Maka sebelum saya tamat, bermodalkan surat keterangan lulus saya mencoba ikut testing di program S1 Keperawatan di Universitas Negeri yang sangat terkenal di Bali dan saya ternyata diterima. Saya sangat bersyukur walaupun kalah prestasi akan tetapi saya akhirnya duluan sebagai Sarjana Keperawatan dibandingkan dengan Sang Juara.

Dari cerita nyata di atas dapat diambil suatu pelajaran bahwa ternyata ada banyak cara unutk berjuang selain lewat prestasi juga bisa dengan mengejar prestise. Prestasi adalah suatu keberhasilan tertinggi yang bisa dicapai seseorang dibandingkan dengan kemampuan yang dimiliki atau dibandingkan dengan kemampuan orang lain Prestasi bersifat vertikal yang hanya menghasilkan satu orang sebagai juara satu. Prestasi biasanya selalu berhubungan dengan keberhasilan di bidang kompetisi kecerdasan, ketrampilan dan kekuatan. Seperti berprestasi menjadi juara dalam suatu pringkat keberhasilan. Orang yang berprestasi akan mendapatkan penghargaan. Sedangkan prestise adalah suatu kehormatan bergengsi karena kedudukan, peningkatan level pendidikan, jabatan, kareer, kedudukan dan status sosial yang dapat meningkatkan harga diri seseorang. Untuk prestise bersifat horisontal karena  kelebihannya  itu menyebabkan seseorang patut dihargai.

Banyak orang di sekolah berprestasi tetapi tidak mampu berprestise di masyarakat. Ada orang di sekolah tidak pernah berprestasi namun setelah di masyarakat tidak jarang menjadi orang berprestise, sukses dalam bisnis, mempunyai kedudukan yang cukup bergengsi di masyarakat sehingga menjadikan dirinya lebih dipandang dibangdingkan teman lainya. Ini sering terjadi dimana sang juara di sekolah kadang kala tidak menjadi apa-apa di masyarakat, hidupnya bisa-biasa saja. Maka jangan rendah diri kalau kalah prestasi di sekolah karena ada jalur perjuangan lagi yaitu melalui perlombaan dalam meraih prestise tertinggi di masyarakat.

Perjuangan prestasi ditentukan oleh kecerdasan dan kemampuan sedangkan pencapaian prestise lebih ditekankan pada keberanian dan keuletan berusaha tanpa kenal lelah. Orang-orang yang berhasil mempunyai prestise di masyakrakat kebanyakan karena orangnya berani mengambil resiko dalam hidupnya, selalu mencari solusi terbaik dari setiap masalah yang dihadapi dan berusaha terus-menerus sampai target yang dicita-citakan tercapai.

Memang yang ideal itu adalha agar bisa berprestasi sekaligus mendapatkan prestise. Namun kalau belum bisa berprestasi atau kalah dalam prestasi, masih ada jalan lain untuk sukses yaitu dengan berjuang untuk meraih prestise. Setelah punya prestise seperti sukses dalam kekayaan, jabatan dan status soaial kemungkinan untuk hidup berprestasi di bidang tersebut lebih mudah dicapai. Jadi wlaupun kalah dalam prestasi kita masih bisa menang dalam prestise dan setelah punya prestise baru berusaha mengejar prestasi. Selamat berprestasi dan berprestise!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Trimakasih atas komentar anda !