Rabu, 20 Januari 2010
inspirasi kebenaran
KEBENARAN HAKIKI
Banyak orang bingung mencari kebenaran. Ada yang datang ke lembaga hukum seperti pengadilan, ada yang mencari kedalam dirinya sendiri dan ada pula yang menyerahkannya ke Sang Pencipta. Apakah sekarang ini kebenaran masih ada? Di manakah mereka berada? Kebenaran yang manakah semestinya kita pakai pegangan hidup?
Ketika seorang mencari kedalam dirinya sendiri, kebenaran itu berwujud baik - buruk yang bersifat subyektif. Bentuk nyatanya hanya berupa persepsi seseorang saja. Orintasi kebenaran hanya satu pihak, yaitu diri sendiri. Ia akan berkata, “Menurut saya itu benar”.
Dan bila dicari di meja hijau kita akan temukan kebenaran itu berwujud undang undang yang mengatur benar-salah. Dan dibuat sekelompok orang. Kebenaran disini hanya berupa kesepakatan sekelompok orang yang meyakini hal itu benar. Orientasinya dua pihak yaitu pihak diri sendiri dan pihak lain yang sepakan membenarkanya. Mereka akan berkata, “Itu kebenaran menurut kami”. Kesepakatan ini bersifat berjenjang. Kebenaran di tingkat bawah tidak selalu sama dengan kebenaran di tingkat berikutnya tergantung kesepakatan mereka yang ada di masing-masing tingkatan. Benar yang dinyatakan sekelompok orang di pengadilan tingkat bawah belum tentu dibenarkan oleh kelompok lebih tinggi. Begiti juga benar yang dikatakan oleh kelompk A belum tentu benar di kelompok B. Dalam pengambilan keputusan yang paling dianggap benar dan baik di masyarakat demokrasi, kebenaran akan dikukur dengan suara terbanyak. Kelompok yang lebih besar akan selalu menjadi lebih benar dari pada yang jumlahnya lebih kecil. Sehingga kwantitas lebih berpengaruh dari pada kwalitas.
Dan bila kebenara itu mengacu kepada Sang Pencipta kebenaran itu sendiri, maka kebenaran itu akan berwujud kemuliaan-kejahatan. Pelangggaran kebenaran Tuhan disebut kejahatan dan semua yang mengacu kepada kebenaran yang kekal dan berlaku untuk semua umat manusia bahkan berlaku juga kepada semua mahluk hidup disebut kemuliaan. Jadi kemuliaan adalah sebuah kebenaran yang baik dan dianut oleh seluruh umat manusia yang bersifat universal. Wujudnya berupa kemuliaan. Kebenaran ini baik untuk pihak sendiri, pihak lain dan juga untuk alam semesta. Munculah istilah “Kebenaran menurut kita”. Inilah kebenaran yang hakiki. Kemuliaan tidak pilih kasih. Selalu adil unutuk semua orang. Inilah kebenaran sejati yang berasal dari Sang Pencipta. Ketika kebenaran itu ditujukan untuk memuliakan umat manusia akan bisa mewujudkan kedamaian dunia dan kesejahtraan semua umat manusia. Masihkah kita bingung mencari kebenaran? Apakah kita memilih kebenaran yang bersifat baik-buruk, benar-salah atau kemuliaan-kejahatan? Kitalah yang menentukan. Akhir kata terimalah salam kemuliaan semoga semua sejahtra, hidup bahagia dan damai selalu.
SEMUA ILMU BAIK
Pada awalnya mengenal seminar, saya amatlah selektif dalam memilih materi apa yang akan diikuti, bahkan saya harus tahu seberapa terkenal narasumbernya. Setelah hampir lima tahun saya selalu rajin mengikuti seminar, seiring dengan peningkatnya tarap hidup maka saya mulai mewajibkan diri untuk seminar minimal sebulan sekali. Lama-lama mulai saya menyadari bahwa setiap ilmu yang dijelaskan dalam seminar pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu ilmu sebagai suatu keyakinan dan ilmu sebagai pengetahuan.
Ilmu sebagai suatu keyakinan adalah bertujuan untuk membentuk atau menambah keyakinan yang dianut seseorang. Karena ada hubungannya dengan keyakinan itulah banyak orang berpikir ulang bila mengikuti sebuah seminar yang tidak sesuai dengan keyakinan yang dianutnya.
Sedangkan kalau ilmu sebagai suatu pengetahuan adalah suatu ilmu untuk menambah pemahaman seseorang terhadap suatu hal. Sebagai suatu pengetahuan, ilmu itu semuanya baik, Ilmu yang dikatakan negative atau positif, pengetahuan kejahatan atau kebaikan serta ilmu tentang racun dan pengobatan pada dasarnya tidak ada perbedaan. Karena ilmu yang dianggap negative bisa menjadi positif bila diarahkan ke hal-hal yang baik, begitu juga sebaliknya. Semua ilmu itu sumbernya juga dari Tuhan. Orang mau jahat juga berdoa pada tuhan agar kejahatannya berhasil. Begitu juga orang mulia juga sering berdoa agar doanya terkabulkan.
Sekarang setelah kita mempelajari semua ilmu baik ilmu positif atau negative, maka kita akan berjalan mengarungi kehidupan ini. Dalam perjalanan akan selalu menemukan persimpangan jalan kehidupan yaitu ke kanan dan ke kiri. Jurusan ke arah kanan untuk kemuliaan dan ke arah kiri untuk kejahatan. Kita memilih arah ke kanan atau ke kiri. tergantung keputusan kita masing masing. Yang jelas kemanapun arah yang akan ditempuh selalu akan diikuti konsekwensi yang harus ditanggung. Hidup itu adalah sebuah pilihan mau memilih ke arah manapun itu semua kita yang menentukan. Ingin menjadi orang baik silahkan ke arah kanan dan kalau ingin jadi penjahat silahkan ke kiri.
Akhir-akhir ini saya mulai lebih yakin lagi bahwa semua ilmu itu baik. Setelah saya mengikuti semua jenis seminar. Dulu memang setiap akan datang ke sebuah seminar pasti saya mempertimbangkan apa judul dari seminar yang diikuti. Semenjak mualai memiliki pemahaman bahwa semua ilmu itu baik saya sudah tidak mempertimbangkan lagi apa judul seminar tersebut. Bahkan saya pernah mengikuti seminar tanpa tahu judul sebelumnya. Kadang-kadang saya juga mengikuti seminar dari sebuah keyakinan yang berbeda dengan yang saya anut. Saya menganggapnnya apa yang disampaikan itu sebuah ilmu pengetahuan tambahan. Keyakinan itu bersifat individu tidak bisa ditentukan oleh manusia. Manusia bisa memberitahukan sebuah keyakinan tertentu tetapi jiwanya sudah punya pilihan keyakinan yang melekat dari sebelumnya.
Untuk menentukan pilihan apakah kita ke kanan atau ke kiri setelah memiliki banyak ilmu pengetahuan maka dituntut suatu kebijaksanaan. Pertanyaannya bagaimana caranya agar selalu mampu berjalan ke arah kanan atau menuju kemuliaan? Kebijaksanaan yang tinggi adalah modal utama mengarahkan manusia selalu berjalan menuju kemuliaan. Kebijaksanaan itu timbul dari pengalaman, pemahaman, kemampuan mengendalikan diri dan selalu mempercayai bisikan kebenaran. jiwa, bukan keinginan pikiran dan nafsu badan belaka. Kunci utamanya adalah mengendalikan diri sebagai pondasi utama kebijaksanaan.
Banyak orang bingung mencari kebenaran. Ada yang datang ke lembaga hukum seperti pengadilan, ada yang mencari kedalam dirinya sendiri dan ada pula yang menyerahkannya ke Sang Pencipta. Apakah sekarang ini kebenaran masih ada? Di manakah mereka berada? Kebenaran yang manakah semestinya kita pakai pegangan hidup?
Ketika seorang mencari kedalam dirinya sendiri, kebenaran itu berwujud baik - buruk yang bersifat subyektif. Bentuk nyatanya hanya berupa persepsi seseorang saja. Orintasi kebenaran hanya satu pihak, yaitu diri sendiri. Ia akan berkata, “Menurut saya itu benar”.
Dan bila dicari di meja hijau kita akan temukan kebenaran itu berwujud undang undang yang mengatur benar-salah. Dan dibuat sekelompok orang. Kebenaran disini hanya berupa kesepakatan sekelompok orang yang meyakini hal itu benar. Orientasinya dua pihak yaitu pihak diri sendiri dan pihak lain yang sepakan membenarkanya. Mereka akan berkata, “Itu kebenaran menurut kami”. Kesepakatan ini bersifat berjenjang. Kebenaran di tingkat bawah tidak selalu sama dengan kebenaran di tingkat berikutnya tergantung kesepakatan mereka yang ada di masing-masing tingkatan. Benar yang dinyatakan sekelompok orang di pengadilan tingkat bawah belum tentu dibenarkan oleh kelompok lebih tinggi. Begiti juga benar yang dikatakan oleh kelompk A belum tentu benar di kelompok B. Dalam pengambilan keputusan yang paling dianggap benar dan baik di masyarakat demokrasi, kebenaran akan dikukur dengan suara terbanyak. Kelompok yang lebih besar akan selalu menjadi lebih benar dari pada yang jumlahnya lebih kecil. Sehingga kwantitas lebih berpengaruh dari pada kwalitas.
Dan bila kebenara itu mengacu kepada Sang Pencipta kebenaran itu sendiri, maka kebenaran itu akan berwujud kemuliaan-kejahatan. Pelangggaran kebenaran Tuhan disebut kejahatan dan semua yang mengacu kepada kebenaran yang kekal dan berlaku untuk semua umat manusia bahkan berlaku juga kepada semua mahluk hidup disebut kemuliaan. Jadi kemuliaan adalah sebuah kebenaran yang baik dan dianut oleh seluruh umat manusia yang bersifat universal. Wujudnya berupa kemuliaan. Kebenaran ini baik untuk pihak sendiri, pihak lain dan juga untuk alam semesta. Munculah istilah “Kebenaran menurut kita”. Inilah kebenaran yang hakiki. Kemuliaan tidak pilih kasih. Selalu adil unutuk semua orang. Inilah kebenaran sejati yang berasal dari Sang Pencipta. Ketika kebenaran itu ditujukan untuk memuliakan umat manusia akan bisa mewujudkan kedamaian dunia dan kesejahtraan semua umat manusia. Masihkah kita bingung mencari kebenaran? Apakah kita memilih kebenaran yang bersifat baik-buruk, benar-salah atau kemuliaan-kejahatan? Kitalah yang menentukan. Akhir kata terimalah salam kemuliaan semoga semua sejahtra, hidup bahagia dan damai selalu.
SEMUA ILMU BAIK
Pada awalnya mengenal seminar, saya amatlah selektif dalam memilih materi apa yang akan diikuti, bahkan saya harus tahu seberapa terkenal narasumbernya. Setelah hampir lima tahun saya selalu rajin mengikuti seminar, seiring dengan peningkatnya tarap hidup maka saya mulai mewajibkan diri untuk seminar minimal sebulan sekali. Lama-lama mulai saya menyadari bahwa setiap ilmu yang dijelaskan dalam seminar pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu ilmu sebagai suatu keyakinan dan ilmu sebagai pengetahuan.
Ilmu sebagai suatu keyakinan adalah bertujuan untuk membentuk atau menambah keyakinan yang dianut seseorang. Karena ada hubungannya dengan keyakinan itulah banyak orang berpikir ulang bila mengikuti sebuah seminar yang tidak sesuai dengan keyakinan yang dianutnya.
Sedangkan kalau ilmu sebagai suatu pengetahuan adalah suatu ilmu untuk menambah pemahaman seseorang terhadap suatu hal. Sebagai suatu pengetahuan, ilmu itu semuanya baik, Ilmu yang dikatakan negative atau positif, pengetahuan kejahatan atau kebaikan serta ilmu tentang racun dan pengobatan pada dasarnya tidak ada perbedaan. Karena ilmu yang dianggap negative bisa menjadi positif bila diarahkan ke hal-hal yang baik, begitu juga sebaliknya. Semua ilmu itu sumbernya juga dari Tuhan. Orang mau jahat juga berdoa pada tuhan agar kejahatannya berhasil. Begitu juga orang mulia juga sering berdoa agar doanya terkabulkan.
Sekarang setelah kita mempelajari semua ilmu baik ilmu positif atau negative, maka kita akan berjalan mengarungi kehidupan ini. Dalam perjalanan akan selalu menemukan persimpangan jalan kehidupan yaitu ke kanan dan ke kiri. Jurusan ke arah kanan untuk kemuliaan dan ke arah kiri untuk kejahatan. Kita memilih arah ke kanan atau ke kiri. tergantung keputusan kita masing masing. Yang jelas kemanapun arah yang akan ditempuh selalu akan diikuti konsekwensi yang harus ditanggung. Hidup itu adalah sebuah pilihan mau memilih ke arah manapun itu semua kita yang menentukan. Ingin menjadi orang baik silahkan ke arah kanan dan kalau ingin jadi penjahat silahkan ke kiri.
Akhir-akhir ini saya mulai lebih yakin lagi bahwa semua ilmu itu baik. Setelah saya mengikuti semua jenis seminar. Dulu memang setiap akan datang ke sebuah seminar pasti saya mempertimbangkan apa judul dari seminar yang diikuti. Semenjak mualai memiliki pemahaman bahwa semua ilmu itu baik saya sudah tidak mempertimbangkan lagi apa judul seminar tersebut. Bahkan saya pernah mengikuti seminar tanpa tahu judul sebelumnya. Kadang-kadang saya juga mengikuti seminar dari sebuah keyakinan yang berbeda dengan yang saya anut. Saya menganggapnnya apa yang disampaikan itu sebuah ilmu pengetahuan tambahan. Keyakinan itu bersifat individu tidak bisa ditentukan oleh manusia. Manusia bisa memberitahukan sebuah keyakinan tertentu tetapi jiwanya sudah punya pilihan keyakinan yang melekat dari sebelumnya.
Untuk menentukan pilihan apakah kita ke kanan atau ke kiri setelah memiliki banyak ilmu pengetahuan maka dituntut suatu kebijaksanaan. Pertanyaannya bagaimana caranya agar selalu mampu berjalan ke arah kanan atau menuju kemuliaan? Kebijaksanaan yang tinggi adalah modal utama mengarahkan manusia selalu berjalan menuju kemuliaan. Kebijaksanaan itu timbul dari pengalaman, pemahaman, kemampuan mengendalikan diri dan selalu mempercayai bisikan kebenaran. jiwa, bukan keinginan pikiran dan nafsu badan belaka. Kunci utamanya adalah mengendalikan diri sebagai pondasi utama kebijaksanaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Trimakasih atas komentar anda !