Selasa, 19 Januari 2010
inspirasi tujuan hidup
TUJUAN PERTAMA HIDUP
YANG UTAMA MATI
Selama manusia masih hidup akan selalu berusaha menjadikan dirinya lebih baik. Melalui belajar mereka berharap bisa berubah. Dari yang tidak tahu menjadi bisa mengerti tentang suatu hal. Dari yang dulunya menderita menjadi hidup lebih sejahtera. Banyak orang tahu tujuan mereka bekerja keras akan tetapi sangat sedikit orang mengerti apa tujuan hidup ini? Dan yang paling penting adalah apa sebenarnya tujuan setelah mati? Maka banyak orang bingung karena tidak mengetahui tujuan hidup dan kematiannya nanti.
Tujuan pertama kita dilahirkan ke dunia ini adalah agar menjadi orang baik, berguna di masyarakat dan bermanfaat untuk orang lain Orang tua selalu mengharapkan anaknya kelak menjadi orang sukses. Mereka membesarkan, mendidik dan menyekolahkan agar kelak menjadi orang yang berguna di masyarakat. Setelah dewasa dan menjadi orang yang berhasil kemudian banyak orang mulai binggung kemana perjalan kita setelah menjadi orang sukses. Karena masalah yang paling banyak timbul adalah saat mencapai puncak kesuksesan.
Tujuna utama manusia akan ketemu setelah kematian. Semua kebaikan yang kita lakukan adalah bertujuan agar kelak di dunia akhirat bisa diterima di sisi-Nya bahkan bisa menyatu dengan Sang Pencipta. Maka tidak jarang banyak orang mulai mempelajari tentang hakekat hidup di dunia ini. Hidup ini adalah semu. Obyek duniawi adalah ilusi yang sewaktu-waktu akan hilang begitu saja. Yang kekal adalah sang roh. Kita akan mencapai kebahagian sejati setelah kematian yaitu roh kita bisa di terima di Istana Tuhan bahkan sampai bisa menyatu dengan-Nya. Kalau semua orang-orang yang baik itu menyatu dengan Sang Pencipta lalu siapa yang akan menolong mereka yang terlalu terlena dengan ikatan nafsu duniawi dan hidupnya penuh dosa di bumi ini? Tuhan menciptakan umat manusia agar bisa saling menolong kalau orang-orang paling bisa menolong umat manusia tidak perduli dengan sesamanya yang masih terbelenggu dengan kesenangan duniawi maka bumi ini akan dipenuhi oleh orang-orang yang serakah penuh nafsu dan berlumuran dosa. Bagaimana tanggung jawab orang-orang yang hebat bisa menyatu dengan Sang Pencipta?
Orang-orang yang sangat mulia mempunyai tujuan berbeda dengan kebanyakan orang. Pada umumnya setelah kematian nanti tidak menginginkan kembali lagi lahir ke bumi dan hanya mau di istana sorga untuk tinggal di sisi-Nya bahkan kalau bisa menyatu dengan Beliau Yang Kekal. Seorang spiritual Tibet yang disucikan umat dunia dalam doanya selau mengatakan ”Ya, Tuhan! selama masih ada umat manusia mendiami bumi ini, perkenankan saya untuk dilahirkan kembali agar bisa membantu mereka menuju istana kemuliaan-Mu!’. Salah satu ciri utama orang mulia adalah tidak egois, tidak mementingkan diri sendiri, dirinya hanya diabdikan untuk orang lain. Dan selalu mendoakan seluruh dunia beserta isinya bahagia. Dia akan bahagia setelah melihat orang lain bahagia. Dia akan pergi paling belakang setelah semua orang berjalan menuju ke tempat yang kekal. Orang-orang suci mulia dari jaman terciptanya manusia sampai sekarang kebanyakan mempunyai misi seperti itu. Jadi tujuan yang paling mulia adalah agar diberikan kesempatan lahir kembali untuk membantu umat manusia agar bisa menyadari hakekat hidup dan juga mati. Semoga kebingungan hidup bisa berkurang dengan semakin mengerti tujuan kematian yang sesungguhnya!
AKU DAN DIA
Ketika anak saya berumur tiga tahun sifatnya sangat egois. Setiap ada mainan yang disukai selalu dianggap miliknya. Semua yang ada menganggap dirinya yang punya.. ”Ini aku yang punya, ini bapakku, rumah ini milikku, semua ini adalah miliku.” Inilah celotehan lugu yang sering kita dengar dari sifat psikologis alamiah seorang anak. Rasa keakuan inilah yang kadang kala masih melekat sampai dewasa. Sifat keakuan yang dominan dalam hidup akan melahirkan sifat egois, mau menang sendiri. Psikologi alami anak-anak ini bila masih mendominasi sampai dewasa akan melahirkan prilaku anti toleransi karena memiliki anggapan hanya aku yang ada
Setelah mulai agak besar, ketika mereka punya mainan yang harus dimainakan berpasangan atau berkelompok, yang pasti ia mulai membutuhkan teman bermain. Disinilah mulai kita menyadari bahwa pentingnya keberadaan teman sebagai partner. Keberadaan kita mulai membutuhkan keberadaan orang lain (dia). Maka kita mulai menyadari aku dan dia ada. Semua teman-teman yang datang bermain adalah karena kita yang menginginkan, mengundang, mendatangkan. Sehingga kedatangan dia merupakan akibat dari keberadaan kita. Kita akan membilang dia ada karena aku ada.
Selesai bermain dengan teman-teman kita mulai pulang. Di rumah ketemu orang tua. Keberadaan orang tua akan menyadarkan bahwa merekalah yang melahirkan, merawat dan membesarkan sampai kita menjadi seperti sekarang. Keberadaan kita ini adalah hasil bentukan, tuntunan dan arahan kedua orang tua. Dari kenyataan ini kita baru akan menyadari bahwa keberadaan aku karena keberadaan kedua orang tua kita. Keberadaan orang tua dengan cita kasihnya menghendaki lahiran kita ke dunia. Maka dari itu aku ada karena dia ada.
Seiring bertambahnya usia kita mulai mencari tahu keberadaan kita dan orang tua sebenarnya berasal dari mana? Semua kehidupan ini siapa yang menciptakan? Kita mulai mempelajari sesuatu yang tidak ada tetapi dipercaya bahwa itu ada. Semakin jauh kita mencari tentang keberadaan kita semakin sadar apa yang ada di dunia ini adalah berasal dari zat yang tidak ada (tidak terlihat tetapi dipercaya ada). Maka dari pencarian ini akan menyadarkan bahwa diriku sebenarnya berasal dari dia (Tuhan). Maka dapat kita katakana bahwa aku ada dari dia yang tidak ada (Tuhan).
Semakin tua usia kita semakin menyadari keberadaan kita yang sebenarnya. Hukum kehidupan menyebutkan bahwa kita dilahirkan untuk hidup, setelah hidup kita akan pulang bersama kematian. Bagi sebagian yang percaya dengan keberadaan Yang Agung maka ketika kita meninggal, walaupun tubuh hancur berkalang tanah dan lenyap bersama angin. Tetapi ketidak beradaan kita di dunia ini sebenarnya semua sudah ditakdirkan oleh Sang Pencipta. Kapan waktunya kita pulang ke akhirat itu semua sudah terjadwal di kantor Malikat pencabut nyawa. Kematian yang sebenarnya adalah ketidak beradaan manusia secara fisik untuk menuju keberadaan yang kekal (Tuhan). Akhirnya kita akan sadar bahwa aku tiada karena dia ada (keberadaan yang kekal)
Perjalanan rohani setelah kematian adalah untuk menuju Sang Penyebab keberadaan itu sendiri. Maka banyak orang melakukan pendakian rohani. Melalui usaha yang keras dan penuh disiplin serta perjalanan menuju kemuliaan akan mengatarkan roh kita menuju tempat yang kekal. Rohani yang sifatnya kekal itu mempunyai kecendrungan untuk menyatu dengan Kekekalan itu sendiri. Keberadaanku sebagai unsur roh dalam tingkatan pendakian spiritual tertinggi akan menyatu dengan keberadaan dia sebagai unsur penyebab dari semua unsure yang ada. Kesadaran orang-orang mulia yang sangat suci akan akan memiliki pemahaman bahwa aku dan dia tiada untuk menjadi yang kekal adanya (lenyap bersatu menjadi Yang Esa).
Dari evolusi rohani di atas kita akan mendapat gambaran bahwa keberadaan kita di dunia ini adalah untuk menunggu ketidakberadaan menuju keberadaan yang kekal. Akhirnya kita mulai bisa menyadari perjalanan rohani manusia adalah aku dan dia ada juga tiada untuk kekal adanya. Namun yang kekal itu ternyata perubahan. Apakah sebaiknya setelahkita mencapai kekekalan itu kita harus kembali menjadi manusia agar bisa bersatu dan menolong orang yang belum mencapai kekkalan untuk menujuk Yang Kekal itu? Terserah pembaca!
YANG UTAMA MATI
Selama manusia masih hidup akan selalu berusaha menjadikan dirinya lebih baik. Melalui belajar mereka berharap bisa berubah. Dari yang tidak tahu menjadi bisa mengerti tentang suatu hal. Dari yang dulunya menderita menjadi hidup lebih sejahtera. Banyak orang tahu tujuan mereka bekerja keras akan tetapi sangat sedikit orang mengerti apa tujuan hidup ini? Dan yang paling penting adalah apa sebenarnya tujuan setelah mati? Maka banyak orang bingung karena tidak mengetahui tujuan hidup dan kematiannya nanti.
Tujuan pertama kita dilahirkan ke dunia ini adalah agar menjadi orang baik, berguna di masyarakat dan bermanfaat untuk orang lain Orang tua selalu mengharapkan anaknya kelak menjadi orang sukses. Mereka membesarkan, mendidik dan menyekolahkan agar kelak menjadi orang yang berguna di masyarakat. Setelah dewasa dan menjadi orang yang berhasil kemudian banyak orang mulai binggung kemana perjalan kita setelah menjadi orang sukses. Karena masalah yang paling banyak timbul adalah saat mencapai puncak kesuksesan.
Tujuna utama manusia akan ketemu setelah kematian. Semua kebaikan yang kita lakukan adalah bertujuan agar kelak di dunia akhirat bisa diterima di sisi-Nya bahkan bisa menyatu dengan Sang Pencipta. Maka tidak jarang banyak orang mulai mempelajari tentang hakekat hidup di dunia ini. Hidup ini adalah semu. Obyek duniawi adalah ilusi yang sewaktu-waktu akan hilang begitu saja. Yang kekal adalah sang roh. Kita akan mencapai kebahagian sejati setelah kematian yaitu roh kita bisa di terima di Istana Tuhan bahkan sampai bisa menyatu dengan-Nya. Kalau semua orang-orang yang baik itu menyatu dengan Sang Pencipta lalu siapa yang akan menolong mereka yang terlalu terlena dengan ikatan nafsu duniawi dan hidupnya penuh dosa di bumi ini? Tuhan menciptakan umat manusia agar bisa saling menolong kalau orang-orang paling bisa menolong umat manusia tidak perduli dengan sesamanya yang masih terbelenggu dengan kesenangan duniawi maka bumi ini akan dipenuhi oleh orang-orang yang serakah penuh nafsu dan berlumuran dosa. Bagaimana tanggung jawab orang-orang yang hebat bisa menyatu dengan Sang Pencipta?
Orang-orang yang sangat mulia mempunyai tujuan berbeda dengan kebanyakan orang. Pada umumnya setelah kematian nanti tidak menginginkan kembali lagi lahir ke bumi dan hanya mau di istana sorga untuk tinggal di sisi-Nya bahkan kalau bisa menyatu dengan Beliau Yang Kekal. Seorang spiritual Tibet yang disucikan umat dunia dalam doanya selau mengatakan ”Ya, Tuhan! selama masih ada umat manusia mendiami bumi ini, perkenankan saya untuk dilahirkan kembali agar bisa membantu mereka menuju istana kemuliaan-Mu!’. Salah satu ciri utama orang mulia adalah tidak egois, tidak mementingkan diri sendiri, dirinya hanya diabdikan untuk orang lain. Dan selalu mendoakan seluruh dunia beserta isinya bahagia. Dia akan bahagia setelah melihat orang lain bahagia. Dia akan pergi paling belakang setelah semua orang berjalan menuju ke tempat yang kekal. Orang-orang suci mulia dari jaman terciptanya manusia sampai sekarang kebanyakan mempunyai misi seperti itu. Jadi tujuan yang paling mulia adalah agar diberikan kesempatan lahir kembali untuk membantu umat manusia agar bisa menyadari hakekat hidup dan juga mati. Semoga kebingungan hidup bisa berkurang dengan semakin mengerti tujuan kematian yang sesungguhnya!
AKU DAN DIA
Ketika anak saya berumur tiga tahun sifatnya sangat egois. Setiap ada mainan yang disukai selalu dianggap miliknya. Semua yang ada menganggap dirinya yang punya.. ”Ini aku yang punya, ini bapakku, rumah ini milikku, semua ini adalah miliku.” Inilah celotehan lugu yang sering kita dengar dari sifat psikologis alamiah seorang anak. Rasa keakuan inilah yang kadang kala masih melekat sampai dewasa. Sifat keakuan yang dominan dalam hidup akan melahirkan sifat egois, mau menang sendiri. Psikologi alami anak-anak ini bila masih mendominasi sampai dewasa akan melahirkan prilaku anti toleransi karena memiliki anggapan hanya aku yang ada
Setelah mulai agak besar, ketika mereka punya mainan yang harus dimainakan berpasangan atau berkelompok, yang pasti ia mulai membutuhkan teman bermain. Disinilah mulai kita menyadari bahwa pentingnya keberadaan teman sebagai partner. Keberadaan kita mulai membutuhkan keberadaan orang lain (dia). Maka kita mulai menyadari aku dan dia ada. Semua teman-teman yang datang bermain adalah karena kita yang menginginkan, mengundang, mendatangkan. Sehingga kedatangan dia merupakan akibat dari keberadaan kita. Kita akan membilang dia ada karena aku ada.
Selesai bermain dengan teman-teman kita mulai pulang. Di rumah ketemu orang tua. Keberadaan orang tua akan menyadarkan bahwa merekalah yang melahirkan, merawat dan membesarkan sampai kita menjadi seperti sekarang. Keberadaan kita ini adalah hasil bentukan, tuntunan dan arahan kedua orang tua. Dari kenyataan ini kita baru akan menyadari bahwa keberadaan aku karena keberadaan kedua orang tua kita. Keberadaan orang tua dengan cita kasihnya menghendaki lahiran kita ke dunia. Maka dari itu aku ada karena dia ada.
Seiring bertambahnya usia kita mulai mencari tahu keberadaan kita dan orang tua sebenarnya berasal dari mana? Semua kehidupan ini siapa yang menciptakan? Kita mulai mempelajari sesuatu yang tidak ada tetapi dipercaya bahwa itu ada. Semakin jauh kita mencari tentang keberadaan kita semakin sadar apa yang ada di dunia ini adalah berasal dari zat yang tidak ada (tidak terlihat tetapi dipercaya ada). Maka dari pencarian ini akan menyadarkan bahwa diriku sebenarnya berasal dari dia (Tuhan). Maka dapat kita katakana bahwa aku ada dari dia yang tidak ada (Tuhan).
Semakin tua usia kita semakin menyadari keberadaan kita yang sebenarnya. Hukum kehidupan menyebutkan bahwa kita dilahirkan untuk hidup, setelah hidup kita akan pulang bersama kematian. Bagi sebagian yang percaya dengan keberadaan Yang Agung maka ketika kita meninggal, walaupun tubuh hancur berkalang tanah dan lenyap bersama angin. Tetapi ketidak beradaan kita di dunia ini sebenarnya semua sudah ditakdirkan oleh Sang Pencipta. Kapan waktunya kita pulang ke akhirat itu semua sudah terjadwal di kantor Malikat pencabut nyawa. Kematian yang sebenarnya adalah ketidak beradaan manusia secara fisik untuk menuju keberadaan yang kekal (Tuhan). Akhirnya kita akan sadar bahwa aku tiada karena dia ada (keberadaan yang kekal)
Perjalanan rohani setelah kematian adalah untuk menuju Sang Penyebab keberadaan itu sendiri. Maka banyak orang melakukan pendakian rohani. Melalui usaha yang keras dan penuh disiplin serta perjalanan menuju kemuliaan akan mengatarkan roh kita menuju tempat yang kekal. Rohani yang sifatnya kekal itu mempunyai kecendrungan untuk menyatu dengan Kekekalan itu sendiri. Keberadaanku sebagai unsur roh dalam tingkatan pendakian spiritual tertinggi akan menyatu dengan keberadaan dia sebagai unsur penyebab dari semua unsure yang ada. Kesadaran orang-orang mulia yang sangat suci akan akan memiliki pemahaman bahwa aku dan dia tiada untuk menjadi yang kekal adanya (lenyap bersatu menjadi Yang Esa).
Dari evolusi rohani di atas kita akan mendapat gambaran bahwa keberadaan kita di dunia ini adalah untuk menunggu ketidakberadaan menuju keberadaan yang kekal. Akhirnya kita mulai bisa menyadari perjalanan rohani manusia adalah aku dan dia ada juga tiada untuk kekal adanya. Namun yang kekal itu ternyata perubahan. Apakah sebaiknya setelahkita mencapai kekekalan itu kita harus kembali menjadi manusia agar bisa bersatu dan menolong orang yang belum mencapai kekkalan untuk menujuk Yang Kekal itu? Terserah pembaca!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Trimakasih atas komentar anda !