Kamis, 04 Maret 2010
Inspirasi rokok
INGAT ROKOK LUPA ISTRI
Semakin ada larangn untuk merokok, malah omset penjualannya semakin meningkat. Hal ini saya tanyakan kepada seorang marketing distributor pada jaringan minimarket saya, dia menjelaskan bahwa ketika keluar sebuah larangan merokok dan mengatakan rokok itu lebih banyak merugikan dari pada maafatnya malah penjualannya melebihi target.
Masalah bagi seorang perokok bukan terletak pada saat memulai atau membeli akan tetapi tantangan terberatnya adalah saat menghahirinya. Mereka akan merasakan sensasi yang tidak bisa dilukiskan kata-kata bagaimana nikmatnya saat menghisap tembakau yang dibungkus kertas berharoma itu. Perokok pasti selalu ingat kapan waktunya merokok dan lupa istri ketika sedang mengisap asap tembakau terbakar. Tubuh dibangun oleh sebuah kebiasaan. Kebiasaan yang kita lakukan dalam jangka waktu lama akan memberikan suatu kenikmatan. Pada awalnya ketika akan memberikan sesuatu yang baru ke pada tubuh akan terjadi fase penolakan. Pada tahap ini biasanya sesuatu yang baru baik makanan, minuman atau rokok belum merasakan enak bahkan sebagian kasus merasa tidak nikmat. Seperti pertama kali merokok rasanya tidaklah enak karena demi pergaulan atau akibat dari pelarian masalah yang tidak terpecahkan maka rasa tidak enak ini diabaikan. Fase penolakan ini berlangsung kira-kira tiga hari. Kemudian tubuh mulai bisa menyesuaikan diri denga sesuatu hal yang baru sampai akhirnya tubuh menerimanya menjadi sebuah kebiasaan. Perokok mulai merasa nikmat dengan kebiasaan barunya itu, lama-lama dia menganggap sebagai suatu kewajiban untuk melakukan hal itu. Bila belum melakukan kegiatan itu sesuai waktunya sepertinya ada yang kurang dalam hidupnya. Sebagai mekanisme pembenar kebiasaan itu dianggap sebagai hak untuk merasakan nikmatnya hidup dengan sebatang rokok Maka mereka akan selau ingat dengan waktu dan kebiasaanya itu.
Perokok sejati akan merasa seperti ada yang menemani saat mengisap rokok. Temannya itu adalah sebuah kenikmatan yang mendatangkan kebahagiaan dan ketenangan. Bahkan sebagian besar saat merokok akan dapat memunculkan ide-ide kreatif dan inovatif. Karya-karya kreatif yang terkenal bahkan sering muncul bersamaan dengan terhembusnya asap rokok ke angkasa. Saat timbilnya hayalan-hayalan itu segalanya terlupakan. Keluarga, anak, istri semuanya dilupakan, orang yang paling dekat saat itu adalah teman diskusi sesama merokok.
Lalu bagaimana dengan seorang yang bukan perokok? Apakah dia juga bisa merasakan nikmatnya dunia tanpa asap rokok? Tergantung dari apa kebiasaan yang menyebabkan dirinya bahagia. Ada yang bahagia dengan merokok, berjudi, memnacing, belajar dan keliling sembayang. Namun di lain pihak ada orang yang bisa bahagia ketika dia selalu berbuat baik. Manakah cara bahagia yang akan dipilih? Tergantung tingkat pemahaman dan kemapanan hidup seseorang! Orang bijaksana akan selalu memilih sesuatu kebiasaan yang baik dan menimbulkan kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain. Selamat memilih!
Semakin ada larangn untuk merokok, malah omset penjualannya semakin meningkat. Hal ini saya tanyakan kepada seorang marketing distributor pada jaringan minimarket saya, dia menjelaskan bahwa ketika keluar sebuah larangan merokok dan mengatakan rokok itu lebih banyak merugikan dari pada maafatnya malah penjualannya melebihi target.
Masalah bagi seorang perokok bukan terletak pada saat memulai atau membeli akan tetapi tantangan terberatnya adalah saat menghahirinya. Mereka akan merasakan sensasi yang tidak bisa dilukiskan kata-kata bagaimana nikmatnya saat menghisap tembakau yang dibungkus kertas berharoma itu. Perokok pasti selalu ingat kapan waktunya merokok dan lupa istri ketika sedang mengisap asap tembakau terbakar. Tubuh dibangun oleh sebuah kebiasaan. Kebiasaan yang kita lakukan dalam jangka waktu lama akan memberikan suatu kenikmatan. Pada awalnya ketika akan memberikan sesuatu yang baru ke pada tubuh akan terjadi fase penolakan. Pada tahap ini biasanya sesuatu yang baru baik makanan, minuman atau rokok belum merasakan enak bahkan sebagian kasus merasa tidak nikmat. Seperti pertama kali merokok rasanya tidaklah enak karena demi pergaulan atau akibat dari pelarian masalah yang tidak terpecahkan maka rasa tidak enak ini diabaikan. Fase penolakan ini berlangsung kira-kira tiga hari. Kemudian tubuh mulai bisa menyesuaikan diri denga sesuatu hal yang baru sampai akhirnya tubuh menerimanya menjadi sebuah kebiasaan. Perokok mulai merasa nikmat dengan kebiasaan barunya itu, lama-lama dia menganggap sebagai suatu kewajiban untuk melakukan hal itu. Bila belum melakukan kegiatan itu sesuai waktunya sepertinya ada yang kurang dalam hidupnya. Sebagai mekanisme pembenar kebiasaan itu dianggap sebagai hak untuk merasakan nikmatnya hidup dengan sebatang rokok Maka mereka akan selau ingat dengan waktu dan kebiasaanya itu.
Perokok sejati akan merasa seperti ada yang menemani saat mengisap rokok. Temannya itu adalah sebuah kenikmatan yang mendatangkan kebahagiaan dan ketenangan. Bahkan sebagian besar saat merokok akan dapat memunculkan ide-ide kreatif dan inovatif. Karya-karya kreatif yang terkenal bahkan sering muncul bersamaan dengan terhembusnya asap rokok ke angkasa. Saat timbilnya hayalan-hayalan itu segalanya terlupakan. Keluarga, anak, istri semuanya dilupakan, orang yang paling dekat saat itu adalah teman diskusi sesama merokok.
Lalu bagaimana dengan seorang yang bukan perokok? Apakah dia juga bisa merasakan nikmatnya dunia tanpa asap rokok? Tergantung dari apa kebiasaan yang menyebabkan dirinya bahagia. Ada yang bahagia dengan merokok, berjudi, memnacing, belajar dan keliling sembayang. Namun di lain pihak ada orang yang bisa bahagia ketika dia selalu berbuat baik. Manakah cara bahagia yang akan dipilih? Tergantung tingkat pemahaman dan kemapanan hidup seseorang! Orang bijaksana akan selalu memilih sesuatu kebiasaan yang baik dan menimbulkan kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain. Selamat memilih!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Trimakasih atas komentar anda !