Minggu, 31 Januari 2010
Inspirasi waktu
WAKTU ITU KEMATIAN
“Selamat ulang tahun” Itulah kalimat yang sering kita dengar ketika seseorang menyelenggarakan acara ulang tahun. Bernarkah tahun itu berulang? Kalau memang berulang, kenapa tidak ada tahun yang sama? Lalu apa sebenarnya hakekat waktu tersebut?
Secara umum waktu dipahami secara siklik (lingkaran) karena bumi mengelilingi matahari secara melingkar sesuai dengan orbitnya.. Satu putara penampakan matahari selama 24 jam disebut satu hari. Kita tahu dalam sehari selalu ada siang dan malam. Bila satu putaran siang-malam sudah terlewati maka hari itu disebut kemarin dan satu putaran berikutnya disebut hari esok. Hai itu terus berulang berlangsung seperti itu. Nama hari dalam seminggu seperti Senin, Selasa dan sebagainya akan datang setiap tujuh hari. Begitu juga bulan Januari, akan datang setiap tahun. Setahun merupakan putaran yang berlangsung selama 360 hari. Setiap tahun seseorang yang tanggal lahirnya muncul lagi disebut ulang tahun. Maka teman dan kerabat akan mengucapkan ”Selamat Ulang Tahun”. Pemahaman waktu yang berulang secara siklik akan muncullah anggapan selalu ada hari esok. Besok masih ada waktu. Hal ini menimbulakan kecendrungan bagi seseorang melakukan penundaan, bermalas-malasan dan aktiitas memperlambat lainnya untuk menghambat kemajuan dengan alasan besok masih ada waktu. Mengapa harus tergesa-gesa toh juga watu itu tidak akan hilang. Itulah kalimat paforit yang paling disenangi oleh seorang pemalas.
Di lain pihak ada yang memahami waktu secara linier( berjalan lurus). Linier ini ada dua yaitu linien ke belakang (retrolinier) ada yang linier ke depan (prolinier). Banyak orang mengatakan waktu itu sudah lewat, waktu sudah berlalu,. sejarah masa lalu tinggal kenangan. Pertanyaanya apakah kita sudah mengisi waktu yang sudah berlalu itu dengan sejarah kebaikan? Sejarah akan mencatat apapun yang sudah kita lakukan, baik berupa kemuliaan maupun kejahatan pasti akan terdokumentasi oleh sang waktu. Noda buruk yang sudah kita lakukan tidak akan pernah terbersihkan secara tuntas karena kita tidak bisa berjalan mundur terhadap perjalanan sang waktu yang selalu menuju ke depan. Namun bagi penganut paham optimisme mereka akan selalu bersemangat menyongsong hari depan penuh harapan. Waktu ke depan adalah kesempatan untuk membuat sejarah, Sehingga hidup menjadi lebih bergairah. Ke depan atau ke belakang dalam memahami waktu tidaklah begitu penting, yang terpenting adalah apa hakekat waktu itu sebenarnya?
Waktu itu adalah kematian. Bagi setiap manusia normal selalu akan mati. Ada yang cepat ada yang di panggil lebil lambat. Semakin banyak waktu yang kita lewati semakin sedikit sisa waktu yang masih tersedia untuk tinggal di bumi. Tuhan menyediakan waktu yang berbeda bagi setiap umatnya. Namun masing-masing negara mempunyai angka kematian rata-rata penduduk yang sering disebut umur harapan hidup. Bila umur harapan hidup itu 65 tahun, dan ketika umur kita sekarang 40 tahun maka umur yang tersisa masih 35 tahun. Dari 35 tahun itulah setiap waktu yang terlewat merupakan kematian kita. Bila besok umur masih tersisa 35 tahun kurang satu hari. Tahun depan secara normal masi diberikan kesempatan hidup lagi 34 tahun dan terus berkurang seiring perjalanan waktu. Maka setiap waktu yang terlewatkan sebenarnya merupakan kematia bagi kita. Maka orang yang berulang tahun itu adalah umurnya mulai berkurang bukannya umurnya bertambah. Masalah utamanya bukan bertambah atau berkurangnya umur, akan tetapi yang paling mendasar adalah sudahkah kematian itu diisi dengan kebaikan? Janganlah menunda berbuat baik, karena kita sebenarnya sudah mati! Jangan takut dengan kematian tetapi takutlah karena mati tidak sempat berbuat baik!
ORANG SIBUK BANYAK WAKTU
Orang yang sibuk banyak punya waktu, dia bisa lebih banyak berkarya, kadang kala lebih rajin mengikuti kegiatan social dan spiritual. Dia sangat trampil mengatur setiap waktu yang ada. Semua waktu akan terisi dengan penuh maanfaat. Bahkan setiap kegiatan yang dilakukan. sering lebih berprestasi dibandingkan dengan orang pemalas yang punya banyak waktu. Orang-orang yang sibuk tidak jarang mempunyai banyak profesi yang dilakukan secara aktif. Seperti ada orang disampaing sebagi pejabat pemerintahan , dia juga aktif sebagai dosen, juga di luar dinas sebagai pengusaha sukses. Di beberapa organisasi sosial bahkan dia biasanya sebagai pengurus. Orang-orang sperti ini umumnya selalu haus akan ilmu pengetahuan maka di sela-sela kesibukannya yang begitu padat tidak jarang juga mengikuti kuliah malam di sebuah universitas yang mempunyai program khusus untuk para eksekutif.
Di sisi lain ada banyak orang tidak memanfaatkan waktunya dengan kegiatan positif. Mereka banyak yang terlena bahwa kita ini sebenranya dibatasi oleh umur, dengan tanpa merasa kehilangan kesempatan, mereka menyia-nyiakan hidup dengan bermalas-malasan. Walaupun manusia secara normal membutuhkan waktu istirahat 7 – 8 jam sehari, kelompok pemalas ini akan menghabiskan waktunya dengan tidur-tiduran bahkan bisa sampai setengah hari, sehari bahkan berhari-hari bermalas-malasan. Kalaupun mereka aktif biasanya mengikuti kegiatan yang bersifat hura-hura. Bersenang-senagn itu wajar tapi akan menjadi tidak wajar kalau kalau masa mudanya di gunakan untuk behura-hura, setelah tua baru bekerja keras. Itu namanya terlambat bertobat. Masa muda untuk bertobat masa tua sebenarnya hanya ntuk bersyukur. Bertobatlah selagi masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki dan bersyukurlah setelah waktu pertobatan sudah habis.
Kalau dicatat orang yang sibuk secara positif akan mempunyai jadwal kegiatan tersendiri. Setiap jam akan dimanfaatkan dengan maksimal. Sedangkan si pemalas walaupun ada banyak waktu tetapi sepertinya tidak punya waktu untuk kegiatan ke hal-hal yang positif seperti kegiatan sosial, acara spiritual apalagi perbuatan menuju sebuah prestasi. Ternyata orang sibuk itu akan selalu mengusahakan waktu untuk dapat menghasilkan sesuatu yang lebih baik, Dia akan selalu punya waktu unutuk berbuat menuju kebaikan, Sedangkan pemalas akan selalu tidak punya waktu bila ada kegiatan yang sifatnya positif. Mereka lebih nikmat tidur dan bermalas-malasan di rumah atau di rumah temenya yang juga pemalas dibandingkan harus mengikuti kegiatan sosial, kegiatan spiritual atau kegiatan positif lainnya.
Dan secara akademis biasanya orang sibuk lebih berprestasi dibandingkan dengan pemalas. Orang yang kuliah sambil bekerja tidak jarang nilainya lebih bagus dibandingkan dengan yang tidak punya kegiatan sampingan sama sekali. Buka masalah sibuk atau tidak, masalah sebenarnya adalah pemanfaatan waktu secara efektif dan efesien. Orang yang hidupnya selalu kepepet, pemikirannya akan lebih berkembang dibandingkan dengan orang yang selalu hidupnya aman dan nyaman. Melatih diri memanagement waktu adalah kunci keberhasilan. Kesimpulannya adalah Orang rajin sangat sedikit waktunya bersantai, tetapi banyak punya waktu berbuat hal positif, Pemalas banyak punya waktu luang, tetapi sedikit waktu berbuat positif.
“Selamat ulang tahun” Itulah kalimat yang sering kita dengar ketika seseorang menyelenggarakan acara ulang tahun. Bernarkah tahun itu berulang? Kalau memang berulang, kenapa tidak ada tahun yang sama? Lalu apa sebenarnya hakekat waktu tersebut?
Secara umum waktu dipahami secara siklik (lingkaran) karena bumi mengelilingi matahari secara melingkar sesuai dengan orbitnya.. Satu putara penampakan matahari selama 24 jam disebut satu hari. Kita tahu dalam sehari selalu ada siang dan malam. Bila satu putaran siang-malam sudah terlewati maka hari itu disebut kemarin dan satu putaran berikutnya disebut hari esok. Hai itu terus berulang berlangsung seperti itu. Nama hari dalam seminggu seperti Senin, Selasa dan sebagainya akan datang setiap tujuh hari. Begitu juga bulan Januari, akan datang setiap tahun. Setahun merupakan putaran yang berlangsung selama 360 hari. Setiap tahun seseorang yang tanggal lahirnya muncul lagi disebut ulang tahun. Maka teman dan kerabat akan mengucapkan ”Selamat Ulang Tahun”. Pemahaman waktu yang berulang secara siklik akan muncullah anggapan selalu ada hari esok. Besok masih ada waktu. Hal ini menimbulakan kecendrungan bagi seseorang melakukan penundaan, bermalas-malasan dan aktiitas memperlambat lainnya untuk menghambat kemajuan dengan alasan besok masih ada waktu. Mengapa harus tergesa-gesa toh juga watu itu tidak akan hilang. Itulah kalimat paforit yang paling disenangi oleh seorang pemalas.
Di lain pihak ada yang memahami waktu secara linier( berjalan lurus). Linier ini ada dua yaitu linien ke belakang (retrolinier) ada yang linier ke depan (prolinier). Banyak orang mengatakan waktu itu sudah lewat, waktu sudah berlalu,. sejarah masa lalu tinggal kenangan. Pertanyaanya apakah kita sudah mengisi waktu yang sudah berlalu itu dengan sejarah kebaikan? Sejarah akan mencatat apapun yang sudah kita lakukan, baik berupa kemuliaan maupun kejahatan pasti akan terdokumentasi oleh sang waktu. Noda buruk yang sudah kita lakukan tidak akan pernah terbersihkan secara tuntas karena kita tidak bisa berjalan mundur terhadap perjalanan sang waktu yang selalu menuju ke depan. Namun bagi penganut paham optimisme mereka akan selalu bersemangat menyongsong hari depan penuh harapan. Waktu ke depan adalah kesempatan untuk membuat sejarah, Sehingga hidup menjadi lebih bergairah. Ke depan atau ke belakang dalam memahami waktu tidaklah begitu penting, yang terpenting adalah apa hakekat waktu itu sebenarnya?
Waktu itu adalah kematian. Bagi setiap manusia normal selalu akan mati. Ada yang cepat ada yang di panggil lebil lambat. Semakin banyak waktu yang kita lewati semakin sedikit sisa waktu yang masih tersedia untuk tinggal di bumi. Tuhan menyediakan waktu yang berbeda bagi setiap umatnya. Namun masing-masing negara mempunyai angka kematian rata-rata penduduk yang sering disebut umur harapan hidup. Bila umur harapan hidup itu 65 tahun, dan ketika umur kita sekarang 40 tahun maka umur yang tersisa masih 35 tahun. Dari 35 tahun itulah setiap waktu yang terlewat merupakan kematian kita. Bila besok umur masih tersisa 35 tahun kurang satu hari. Tahun depan secara normal masi diberikan kesempatan hidup lagi 34 tahun dan terus berkurang seiring perjalanan waktu. Maka setiap waktu yang terlewatkan sebenarnya merupakan kematia bagi kita. Maka orang yang berulang tahun itu adalah umurnya mulai berkurang bukannya umurnya bertambah. Masalah utamanya bukan bertambah atau berkurangnya umur, akan tetapi yang paling mendasar adalah sudahkah kematian itu diisi dengan kebaikan? Janganlah menunda berbuat baik, karena kita sebenarnya sudah mati! Jangan takut dengan kematian tetapi takutlah karena mati tidak sempat berbuat baik!
ORANG SIBUK BANYAK WAKTU
Orang yang sibuk banyak punya waktu, dia bisa lebih banyak berkarya, kadang kala lebih rajin mengikuti kegiatan social dan spiritual. Dia sangat trampil mengatur setiap waktu yang ada. Semua waktu akan terisi dengan penuh maanfaat. Bahkan setiap kegiatan yang dilakukan. sering lebih berprestasi dibandingkan dengan orang pemalas yang punya banyak waktu. Orang-orang yang sibuk tidak jarang mempunyai banyak profesi yang dilakukan secara aktif. Seperti ada orang disampaing sebagi pejabat pemerintahan , dia juga aktif sebagai dosen, juga di luar dinas sebagai pengusaha sukses. Di beberapa organisasi sosial bahkan dia biasanya sebagai pengurus. Orang-orang sperti ini umumnya selalu haus akan ilmu pengetahuan maka di sela-sela kesibukannya yang begitu padat tidak jarang juga mengikuti kuliah malam di sebuah universitas yang mempunyai program khusus untuk para eksekutif.
Di sisi lain ada banyak orang tidak memanfaatkan waktunya dengan kegiatan positif. Mereka banyak yang terlena bahwa kita ini sebenranya dibatasi oleh umur, dengan tanpa merasa kehilangan kesempatan, mereka menyia-nyiakan hidup dengan bermalas-malasan. Walaupun manusia secara normal membutuhkan waktu istirahat 7 – 8 jam sehari, kelompok pemalas ini akan menghabiskan waktunya dengan tidur-tiduran bahkan bisa sampai setengah hari, sehari bahkan berhari-hari bermalas-malasan. Kalaupun mereka aktif biasanya mengikuti kegiatan yang bersifat hura-hura. Bersenang-senagn itu wajar tapi akan menjadi tidak wajar kalau kalau masa mudanya di gunakan untuk behura-hura, setelah tua baru bekerja keras. Itu namanya terlambat bertobat. Masa muda untuk bertobat masa tua sebenarnya hanya ntuk bersyukur. Bertobatlah selagi masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki dan bersyukurlah setelah waktu pertobatan sudah habis.
Kalau dicatat orang yang sibuk secara positif akan mempunyai jadwal kegiatan tersendiri. Setiap jam akan dimanfaatkan dengan maksimal. Sedangkan si pemalas walaupun ada banyak waktu tetapi sepertinya tidak punya waktu untuk kegiatan ke hal-hal yang positif seperti kegiatan sosial, acara spiritual apalagi perbuatan menuju sebuah prestasi. Ternyata orang sibuk itu akan selalu mengusahakan waktu untuk dapat menghasilkan sesuatu yang lebih baik, Dia akan selalu punya waktu unutuk berbuat menuju kebaikan, Sedangkan pemalas akan selalu tidak punya waktu bila ada kegiatan yang sifatnya positif. Mereka lebih nikmat tidur dan bermalas-malasan di rumah atau di rumah temenya yang juga pemalas dibandingkan harus mengikuti kegiatan sosial, kegiatan spiritual atau kegiatan positif lainnya.
Dan secara akademis biasanya orang sibuk lebih berprestasi dibandingkan dengan pemalas. Orang yang kuliah sambil bekerja tidak jarang nilainya lebih bagus dibandingkan dengan yang tidak punya kegiatan sampingan sama sekali. Buka masalah sibuk atau tidak, masalah sebenarnya adalah pemanfaatan waktu secara efektif dan efesien. Orang yang hidupnya selalu kepepet, pemikirannya akan lebih berkembang dibandingkan dengan orang yang selalu hidupnya aman dan nyaman. Melatih diri memanagement waktu adalah kunci keberhasilan. Kesimpulannya adalah Orang rajin sangat sedikit waktunya bersantai, tetapi banyak punya waktu berbuat hal positif, Pemalas banyak punya waktu luang, tetapi sedikit waktu berbuat positif.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Trimakasih atas komentar anda !